FIGHT OR WAIT! MAKE YOUR OWN DECISION

•Agustus 6, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar
Ever want to be free?
Do you even remember?
Want to be god and devil like me?
Ever want to just stop?
Do you want to surrender?
Or fight for victory?


Yep! Mimpi buruk itu akhirnya jadi kenyataan. Pagi ini, inbox MP dibombardir QN dan blog yang berisi kepanikan, kemarahan, kesebelan dan perasaan-perasaan lain, dimana ini adalah bagian reaksi dari rencana penutupan blog dan beberapa fitur (selain buat jualan) di MP. Memang katanya (kalo ngomong gosipnya,gw ngeri itu beneran cuma gosip), MP nantinya akan menyediakan fitur untuk migrasi (yang entah ke mana). Karena setahu gw, untuk mindah dari satu server ke server lain, apalagi dengan data yang segambreng itu, gak sebentar dan gak mudah.

Ini cuma opini gw — yang notabene bukan pengusaha — mungkin fitur blog di MP ini bikin server MP jadi berat. Belum lagi kalo udah pada komen (komen disimpen juga di server kan?) dan foto-foto (yang menurut mereka) gak penting. Itu HANYA JADI BEBAN buat server. Apalagi kalo make fasilitasnya gretongan. Menurut otak pengusaha, keberadaan fitur-fitur tersebut gak ada artinya dan super gak penting. Dengan kata lain, gak bisa bikin perut elu kenyang.

Yah, mungkin gw cuma seorang sentimentil. Buat gw, berita itu kayak petir di siang bolong. Karena, gw punya “keluarga” di sini. Mungkin buat mereka cuma beberapa tahun nggak berarti. Tapi rasa kedekatan satu sama lain antar blogger MP gak bisa digantikan. Seperti yang dikatakan cak Marto di salah satu reply “Would you refund my friendship??” Yep. Rasa pertemanan itu yang bikin kita semua shock dan ngerasa bakal kehilangan fitur-fitur tersebut dari MP ini. Bahkan, beberapa teman sampai berucap, “Rela membayar berapapun agar fitur tersebut tetap ada..” Bayangkan itu? Seberapa besar rasa kehilangan mereka.

Namun, sekali lagi. Uang kan memang nggak punya hati

Gw nyoba berpositif thinking. Karena kata Mbak Arie, ini bukan kiamat or akhir dunia. Kita masih bisa kontak-kontakan, even nggak di wadah MP lagi. Cuma, gw nggak rela. Kenapa nggak rela? Artinya, sama aja kita ngalah sama kekuatan uang. Di sini Money Power-lah yang bermain. Mungkin konklusi terakhir, entah MPers melakukan bedhol desa (pindah ke socmed lain) atau membuat web baru dengan base yang sama dengan MP, tapi orang-orang yang kecewa gw rasa nggak akan cuma diem aja. Akan ada sesuatu hal yang kita jadikan “kenang-kenangan” buat mereka.

Ibarat habis manis sepah dibuang, itulah nasib para blogger MP ini. MP berubah menjadi eCommerce juga setelah fitur blognya berkembang dan mampu menarik jutaan peminat. Namun, setelah peminatnya membludak, apa yang terjadi? Sudah tidak dibutuhkan lagi. Sedikit banyak kayak holocaust virtual ya? *terlalu lebay sih* Secara pribadi sih, gw berharap, setelah blogger pada hijrah ke socmed lain, MP gak akan laku lagi, gak akan serame sekarang lagi *jahat ya gw, tapi mereka juga jahat menurut gw*

Jadi, mau menunggu sembari harap-harap cemas hingga fitur tersebut akhirnya ditutup atau bertindak sesuatu (yang sampai detik ini, gw juga belum tahu apa, tapi gw lagi berusaha mikir), itu adalah keputusan masing-masing. Gw cuma enggak pengen kalah sama kapitalis. That’s all…

This is a call to arms, gather soldiers
Time to go to war
Iklan

Nurani Terkikis?

•Juli 31, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

*Hanya sekedar renungan pribadi*


Tanggal 29 Juli 2012 yang lalu, gw sama si Mas naek motor dari Depok mau ke Jakarta. Dan kami kejebak macet pas di jalan raya kawasan Lenteng Agung. Biasanya, kalo belum jam 12 siang, apalagi hari libur, jalan raya tersebut paling anti macet *meski di hari biasa, macetnya Naudzubillah min dzalik*. Mendadak, ada seorang ibu-ibu ngomong dengan suara kenceng, “Gak ada KTP-nya, enggak ada yang tau itu siapa..”. Langsung deh, gw sama si Mas nebak : ADA KECELAKAAN.

Dan ternyata bener. Di pinggir rel kerata, ada koran yang dibentangkan (yang biasanya) buat nutup korban kecelakaan. Cuma, yang bikin gw makin miris, memang banyak orang yang berkumpul di sekitar korban tersebut. Tapi, bukan buat nolong atau apa. Mereka rata-rata memegang handphone dan nampak beberapa orang mengambil foto. Entah kenapa, menurut gw kok ya perbuatan itu agak keterlaluan (mungkin gw-nya aja yang skeptis). Bisa aja mereka foto-fiti karena si korban enggak ketahuan siapa, karena enggak ada identitas.


Langsung aja gw kebayang sama komik yang gw baca di malam sebelumnya, Working Man a.k.a Hataraki Man-nya Moyoco Anno. Komik ini berkisah tentang sepak terjang wartawati majalah mingguan JIDAI. Ada satu kisah, dimana saat Hiroko, sang tokoh utama pingin mengangkat tema kebakaran rusun berpuluh tahun silam, dia malah dihadapkan pada kejadian kecelakaan masal di sebuah terowongan.

Nah, di saat para petugas pemadam kebakaran dan polisi sedang berjuang menyelamatkan orang-orang yang terjebak di terowongan, Hiroko melihat ada sekelompok orang di dekat lokasi kejadian. Mereka semua mengangkat kamera dan mefoto-nya dengan tatapan dingin, seolah-olah kejadian di depan mereka hanyalah sebuah lintasan berita yang nongol di televisi. Ironis banget.

******

Entah yang kayak gitu apa namanya. Apakah termasuk pemerosotan nurani atau enggak, gw juga nggak tau. Hanya, menurut gw, kalo ada kecelakaan atau ada musibah yang terjadi di sekitar kita, sebaiknya memang kita bantu SEBISA MUNGKIN. Kalo ngerasa enggak mampu, ya jangan cuma bengong dan nonton doang. Dulu gw inget ada temen MP yang pernah posting juga masalah ini (cuma lupa siapa heheh maap).

Jaman sekarang menjaga hati nurani itu susah. Godaannya gede. Ya senyaman kita aja gimana menjaganya biar tetap “ada”. Jangan sampe jadi orang kehilangan empati dan mati hati.Kalo buat gw pribadi ya salah satunya itu.Gw paling anti kalo pas naek motor sama si Mas, trus ada kecelakaan dan orang-orang udah pada ngumpul untuk nonton, trus kita menghentikan kendaraan dan ikut nonton, gw selalu tegesin ke si Mas, “Kalo kamu mau bantu, kamu berhenti. Kalo cuma pengen tau doang, mending lanjut jalan.”

Sampai kapanpun, semoga gw enggak akan jadi orang yang cuma bengong dan nonton doang kalo ada hal buruk terjadi di sekitar kita. Bukannya pengen sok pahlawan, tapi kadang ada waktunya bertindak yang seharusnya.

****

P.S : Berita kecelakaan terkait bisa ditemukan di sini. Ternyata bener ada kecelakaan kereta.

[Lomba Senyumku Untuk Berbagi] The Beginning

•Juli 12, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Untuk berpartisipasi dalam lombanya Kak List

ki-ka : Ario, Prytha, Bonnie, Mona, fans Jared Leto, Muse


Mungkin ini bukan cerita baru. Tapi buat gw, kenangan saat itu enggak akan pernah terlupakan. Awalnya hanya pengen ngasih titipan buku The Historian (Elizabeth Kostova) ke Museliem. Namun, dari jadwal yang disepakati awalnya, kita mundur satu hari. Plus agenda tambahan : PLESIR KOTA TUA. Waktu gw dikasih tau bahwa akan ada beberapa MPers lain — dan bukan kontak gw — yang akan join, gw udah dag-dig-dug. Ngeri aja, kalo enggak nyambung gimana? Kalo enggak cocok gimana? Dan gimana-gimana yang lainnya terbersit di kepala. Cuma karena udah dari dulu gw pengen ke Kota Tua, gw nekat aja. Hari Minggu, bulan November 2010, untuk pertama kalinya, gw bertemu dengan Mona, Ario dan Prytha, tanpa masing-masing dari kami enggak tau ID MP satu sama lain. Tapi, ajaibnya, obrolannya bisa nyambung dan kita mulai ketawa-ketiwi sepanjang rute Trans-Jakarta Blok M-Kota. Pake foto-foto di dalam TJ ala ABG gituh.

Begitu tiba di Museum Bank Mandiri, kami semua berkenalan dengan Astrie, yang akrab disapa Bonnie. Dia MPers juga, namun karena akunnya dibikinin Mona, hingga sekarang, jeung Bonnie ini enggak pernah nyambangi MP karena lupa password . Awalnya, karena kami semua masih canggung. Becanda hanya haha hihi biasa, jaim-jaiman terasa kental dan ngobrolnya sopan-sopan.

Hingga, ada sebuah kejadian di Museum BI yang jadi titik balik pertemuan ini. Saat itu, kami ingin membeli souvenir yang dijual di situ. Namun, di counter souvenir, penjaganya sedang nggak ada. Maklum, sudah jam makan siang. Karena terbawa suasana, kita mulai melakukan “improvisasi”. Setelah foto-foto — yang salah satunya di atas itu — Muse dengan isengnya masuk ke bagian kasir dan berlagak sebagai penjaga toko. Sisanya, kami bertindak sebagai pelanggan.

Saat kita sedang asyik cuap-cuap ala pedagang pasar Senen, lewatlah seorang mbak-mbak menggunakan polo shirt kuning dan celana jeans. Begitu si Mbak ngeliat Muse sedang di dalam tempat kasir, si mbak langsung menghardik :

“Mas-nya siapa ya?”

Kita gelagepan gak bisa jawab.

“Mas sama mbak-nya tahu kan kalo di sini sedang banyak anak kecil? Jika melihat kelakuan yang seperti itu, kemudian dicontoh gimana?”

Kita cuma bisa diem aja.

“Mbak sama mas-nya dulu pernah sekolah kan?”

Aiiih…matek dah kitaaaaaaa. Maluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu banget rasanya. Dan kita cuma bisa bilang, “Kita mau beli souvenir, Mbak…” liriiih banget.

“Ya sudah, tunggu saja. Nanti juga yang jaga kembali.” trus si Mbak baju kuning berlalu. Setelah itu, benar juga, penjaga tokonya dateng. Namun, gegara kejadian barusan, mood beli souvenir udah ilang, jadi ya kita beli ala kadarnya.

Setelah kejadian tersebut, entah kenapa, rasa jaim kita ilang sudah. Kita berenam udah mulai ceng-cengan, cela-celaan dan ngobrol-ngobrol gak jelas. Perjalanan hari itu juga berlanjut hingga menjelang malam, setelah kami bersepeda menyusuri Pelabuhan Sunda Kelapa.

****

Pertemuan hari itu adalah pertemuan awal gw dengan para Kembeners (akhirnya kami menyebutnya begitu, karena Naked Traveler sudah jadi milik Trinity , maka kami menyebut diri kami Kemben Travelers). Kemudian, hingga saat ini, anggotanya bertambah 2 orang MPers lagi, Bude dan Syarah. Gara-gara insiden yang cukup memalukan tersebut, hubungan kami semua jadi lumayan solid hingga hari ini. Senyum kami sebelum diomeli itu juga mungkin sebuah pertanda bahwa kami akan tersenyum lebih banyak lagi dalam kegiatan kami bersama. Dan gw sekarang, malah bersyukur pernah diomelin mbak-mbak penjaga itu, karena ternyata omelan itulah ice-breaking yang pas buat ngilangin jaim

****

Poto dicomot dengan ijin level wahid dari MP-nya Muse

[XENOPHOBIA] The Power of Apology

•Juli 9, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dulu, jaman saya masih jatuh cinta setengah mampus sama Narnia, saya sempat dikenalkan ke sebuah forum dimana semua Fans Narnia berkumpul dan berinteraksi. Forum tersebut adalah The Dancing Lawn (TDL), dengan membernya dari segala penjuru dunia. Awalnya saya minder banget untuk join di sini. Selain kemampuan berbahasa Inggris saya amat-sangat-terbatas-sekali, saya masih belum tahu apapun tentang Narnia, selain dari film The Lion, The Witch and The Wardrobe. Dan ketakutan saya dalam membuka diri saat itu, tidak lain tidak bukan, Narnia Forum adalah forum internasional berbasis Christianity.

Tidak susah memang untuk beradaptasi di situ, karena member TDL adalah orang-orang yang menyenangkan. Saat itu, dengan sentimen dunia akan keberadaan umat Muslim, jujur saya yang paling anti jika dimintai foto dan data diri. Karena saya tidak mungkin berfoto tanpa jilbab dan jika saya menunjukkan foto saya berjilbab, saya takut dibenci oleh teman-teman saya. Suatu hari, ada yang membuka thread/topik tentang Islam. Saya cukup terkejut, ternyata ada beberapa member yang beragama Islam, seperti saya. Jadilah saya menyimak diskusi tentang Islam, tanpa berkomentar apapun. Hanya membaca…dan membaca.

Hingga suatu saat, muncullah seorang member dengan ID Copperfox, yang masih menganggap bahwa pemikiran Islam itu picik –tentu saja, ucapan beliau berdasarkan berita bahwa Islam identik dengan terorisme –. Saya lupa tepatnya apa yang beliau bilang saat itu, namun hal itu cukup memancing emosi saya, sehingga saya me-reply komen beliau, “Islam mencintai keanekaragaman. Islam tidak akan menyakiti orang lain.”

Dan Copperfox me-respon, “Jika Islam mencintai keanekaragaman, kenapa saya harus berpisah dari keluarga saya untuk berlindung dari serangan bom yang dibuat orang Muslim?”

Saat itu, saya yang sudah terlanjur emosi — dan terluka — hanya bisa bilang, “Saya Muslim, Sir. Namun, apakah sejauh ini, saya pernah menyakiti Anda? Apakah saya mengirimkan bom kepada teman-teman di sini? Tolong, ubah pikiran picik Anda.”

Kemudian, saya tidak login selama beberapa hari. Di masa-masa “vakum” tersebut, saya curhat terus kepada Ibu. Saya menangis, kenapa saya merasa dipojokkan seperti itu. Semakin saya ulang cerita tersebut, semakin saya merasa bersalah. Saya seharusnya tidak mengatai Mr.Copperfox sebagai orang picik. Saya berpikir, apa bedanya saya dengan gambaran umat Muslim di benak beliau?

Kemudian saya mengirim PM kepada beliau, intinya berisi permintaan maaf. Saya minta maaf karena, tanpa tahu apa-apa, saya mengata-ngatai beliau sebagai orang berpikiran dangkal. Saya meminta maaf karena saya tidak mencari tahu terlebih dahulu, namun langsung men-judge beliau seperti itu. Saya juga berkata bahwa, secara pribadi, saya tidak membenci beliau atau kepercayaan apapun yang beliau anut. “Saya meminta maaf sebagai orang per orang, namun bukan atas agama apa yang saya anut.”

Percayalah, teman. Ternyata kekuatan dari permintaan maaf itu ada benarnya. Beliau kemudian memperkenalkan diri sebagai Mr. J. Ravitts — yang kemudian saya panggil dengan Grandad Joe — mantan marinir saat perang Teluk. Beliau sudah menikah dua kali, dimana istri pertama meninggal karena kecelakaan dan istri kedua, saat itu sekarat karena kanker. Istri kedua beliau saat ini sudah meninggal. Kami saling berkirim PM, saling berkomentar di thread masing-masing, saling me-reply dan akhirnya beliau memutuskan bahwa grammar saya perlu banyak sekali perbaikan

Akhirnya, Grandad Joe resmi menjadi guru bahasa Inggris saya. Beliau tertarik dengan kebudayaan Jawa dan maritim Indonesia. Dan kemudian, saat saya kirim foto diri saya — tentu saja dengan jilbab — beliau hanya berkomentar, “Sayang sekali wajah semanis ini harus ditutup dengan kain setebal itu” dan beliau menerima jawaban saya, “I’m pleased to do that“. Kami terus berkomunikasi, hingga beberapa bulan kemudian, karena saya pindah kerja, saya sudah jarang membalas email beliau.

Yang bikin saya surprised, beliau membuat sebuah sonnet di TDL untuk balasan buku yang saya kirim :


Dan yang paling menyenangkan, beliau membuat sebuah cerita berdasarkan apa yang beliau ketahui tentang pulau Jawa. Diberi judul “Iron Merchant” dan saya menemukan tulisan ini :


Berkat membuka diri terhadap Grandad Joe, saya memiliki banyak sahabat dan kawan-kawan baik di TDL. Saya tidak lagi takut mengaku bahwa saya Muslim dan teman-teman baik saya tidak keberatan bahwa saya seorang Muslim.

*****

Diikutkan dalam Lombanya Mbak Lessy
Foto-foto dokumen pribadi. Number of words : 647 (via http://www.wordcounttool.com/)

[Rencananya Buat Lomba MP Parodi] Babad Lintas Jaman part VII : Labs Report

•Juli 5, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Seorang pemuda ganteng ngulet di tempat tidurnya, di sebuah kos-kosan yang bernama Segara Kidul. Saat sang pemuda, yang diduga bernama Romeo tersebut, melirik ke meja belajarnya, sontak dia terperanjat. Dia melihat setumpuk kertas HVS warna putih masih kinclong layaknya perawan ting-ting.


“Oh My Dewa!! Saya belum mengerjakan laporan praktikum sama sekali!!” Romeo ini ternyata adalah mahasiswa Fakultas Taneman di Universitas KapurBarus. Saat ini dia sudah semester III dan besok adalah hari terkhir pengumpulan Laporan Praktikum Rimpang.

“Mampus! Mana asistennya adalah kak Rahwana lagi!!”, Romeo sudah panik, kayak mau lahiran.

Senior Rahwana, dikenal galak tapi playboy. Dia nggak akan segan-segan menghukum adik kelasnya yang tidak melaksanakan tugasnya. Bukan dengan mengurangi nilai atau hukuman cambuk, tapi orang yang sedang di PDKT, bahkan pacar si junior akan diembat. Romeo jelas-jelas tidak mau Julietnya tercinta, yang diubernya sampe ke kolong langit (baca ini) hingga belajar nari dengan akhir yang gak enak (baca ini), direbut begitu saja oleh Rahwana. Romeo masih ingat jelas kasus yang menimpa temannya si Rama. Cem-ceman Rama, si Shinta, diembat sama Rahwana karena Rama telat menyerahkan Laporan Praktikum Cempedak.

Romeo yang stres karena bingung harus nyari bahan ke mana, akhirnya jalan-jalan ke luar. Praktikum ini sebenarnya hanya mencatat pertumbuhan tanaman beserta menggambar fase-fase pertumbuhannya. Hanya karena Romeo lupa, gegara sibuk nguber Juliet, dia enggak sempat menanam satupun. Antara pengen nangis, pengen teriak, pengen nyekek Rahwana dan pengen nari balet (Romeo adalah seorang penari). Saat sedang kalut, di depan gang kos-kosan Segara Kidul, Romeo melihat spanduk dengan warna-warna gonjreng bertuliskan :

” OBRAL BESAR: BIBIT SUPER. TUMBUH DALAM 24 JAM”

Romeo mendadak menemukan solusi masalahnya. Dia segera membeli sebungkus bibit jahe. Di petunjuknya ditulis begini : Bibit Super S : Jahe. Tumbuh dalam 24 jam dengan tiga tetes air saja.

Sepanjang perjalanan pulang, otak encer Romeo mulai beraksi.

“Kalo tiga tetes air dia tumbuh dalam waktu 24 jam, berarti jika aku tetesin enam tetes, dia akan lebih cepat tumbuhnya. Dan kalo aku tetesin sembilan tetes, dia bisa tumbuh hanya dalam waktu 3 jam!”, pekiknya.

Romeo segera menanam bibitnya dan sembari menunggu tanamannya tumbuh, dia mulai membuat bab pembuka untuk laporannya. Sedikit-sedikit dia mulai melirik potnya, apakah ada perkembangannya atau tidak. Romeo menetapkan waktu tiga jam, agar dia bisa menulis laporan perkembangan si jahe sedikit demi sedikit.

Sudah dua jam setengah berlalu dan masih tidak ada perkembangan, Romeo udah panas dingin. Ngeri aja kalo ternyata bibitnya palsu. ” Membayangkan Rahwana berkencan dengan Juliet saja rasanya jauh lebih mengerikan daripada nonton Woman in Black bareng Kuntilanak,” jeritan batin Romeo.

Mendadak, dari pot-nya keluar asap. Kemudian ada intro lagunya “Look At Me”-nya Geri Halliwell. Mendadak, potnya meledak dan muncul sesosok mutasi paling aneh yang ada di dunia. Mutasi berbentuk manusia itu mengenakan gaun super ketat bergambar bendera Inggris, pake syal bulu-bulu dan pake sepatu hak tinggi 12 centi. Hanya yang paling mengerikan, dia berambut merah, berewokan dan badannya sterek.

“Yuhuuuuu, masnyaaaaaaaaaaaaaaaaa….saia Ginger Spiceeee. Makaciiih yaaaa…syudah mbikiiin saiaaaaa…”, pekik hasil mutasi tersebut.


Dan Romeo, pingsan dengan ganteng, bersiap menghadapi Rahwana yang akan menguber Juliet.

****

Rencananya mau diikutkan di lombanya Echan yang ini. Cuma kok ya garing amat ini cerita

Layar Tancep Marathon Sabtu Malam

•Juli 1, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Gw selama ini jarang banget nonton tipi swasta. Palingan jadi hobi nonton gegara baru masang cable, itu juga yang ditonton kalo gak AFC ya Cartoon Network. Sabtu malem, gw kebanyakan molor siangnya (katanya kalo lagi tekdung emang Hb turun jadi bawaannya ngantuk mulu *eh, itu mah emang hobi kali?*), jadi malemnya gw iseng-iseng cetak cetek remote di seputar tipi lokal swasta. Dan yang gw dapet :

1. POWDER (1995) .5 diputer di O-Channel

Berkisah tentang seorang pemuda bernama Jeremy Powder (Sean-Patrick Flanery — yang agak mirip sama Oom Paul Bettany yaaaah — *gak penting*) yang yatim piatu. Ibunya meninggal saat melahirkan dia dan sang ayah tidak mau mengakui dirinya sebagai anaknya. Dikarenakan sosok Jeremy yang secara fisik cukup aneh. Dia botak, berkulit albino dan memiliki ESP (Extrasensory Perception). Jeremy mampu menggerakkan benda-benda logam dan mengendalikan listrik. Ini dikarenakan sang Ibu tersambar petir saat mengandung dirinya. Jeremy juga mampu menjadi medium, dia bisa mentransfer rasa sakit rusa yang ditembak ke pikiran pemburunya. Dan dia akhirnya mampu menjembatani seorang istri yang koma dan suami yang sabar menunggu kepulihannya.

Film ini juga menceritakan tentang kesepian Jeremy karena penolakan orang-orang terhadap dirinya. Mereka menganggapnya aneh dan harus disingkirkan. Adalah Mr. Ripley (Jeff Goldblum) sang guru fisika, Ms. Caldwell (Mary Steenburgen) dan seorang gadis bernama Emma yang mampu membuat Jeremy merasa diterima. Endingnya pun dramatis namun indah.

Setelah kelar nonton Powder, gw iseng nyari acara yang menarik. Eh, nemu film ini :

2. RUN FATBOY RUN (2007) di GlobalTV .5


Berkisah tentang Dennis (Simon Pegg) lelaki brengsek yang meninggalkan calon istrinya, Libby (Thandie Newton) yang sedang hamil di altar gereja. Setelah lima tahun hidup dalam ketidak jelasan, Dennis ditantang sobatnya Gordon (Dylan Moran) untuk ikut marathon. Intinya sih Gordon pingin aja taruhan dan menang duit banyak. Ternyata, salah satu peserta marathon tersebut adalah Whit (Hank Azaria) yang saat itu berpacaran dengan Libby dan berniat hendak mempersuntingnya.

Dennis yang ternyata masih menyayangi Libby, bertekad ingin mengembalikan kehidupan sebelumnya bersama Libby dan Jake, putra mereka. Kisah ini pada dasarnya klise banget. Bisa ditebak sih endingnya kayak apa. Cuma pada dasarnya gw emang suka sama aktingnya Simon Pegg. Dan di sini keliatan banget perut Simon yang dari buncit jadi langsing gegara keseringan latihan lari

Selama menonton ini, gw cetak cetek dengan channel lain, karena ada pilem ini :

3. MARTIAN CHILD (2007) kalo gak salah di TransTV .5

David (John Cusack) adalah seorang duda yang juga penulis sains-fiction. Bukunya yang berjudul Draconian (kalo gak salah, pokoknya ada Draco-Draconya) laris manis di pasaran. Hingga suatu hari, dia memutuskan untuk mengangkat anak. Dipilihlah Dennis (Bobby Coleman), seorang bocah 6 tahun yang hiperimajinatif dan menganggap dirinya dari Mars.Hal inilah yang menjadi batu sandungan hubungan ayah dan anak angkat ini.

Dennis sering mengutil dan mengambil barang-barang David sehingga Departemen Sosial menganggap David tidak layak menjadi orang tua angkat Dennis.Namun, David dan Dennis sudah saling membutuhkan satu sama lain. Sehingga mereka berusaha memahami satu sama lain, meski kadang masih enggak nyambung juga. Kisah ini indah. Cuma, mungkin karena efek ngantuk dan laen sebagainya, menurut gw biasa aja. Cenderung boring malah.

Kelar kedua film yang saling gonta-ganti itu, akhirnya bioskop transTV nongolin judul ini di pembukaannya (yang menggunakan embel-embel TELAH LULUS SENSOR) :

4. The Assasination of Jesse James (2007) di TransTV

Dan iniiiih…adalah film-nya Brad Pitt yang duluuu banget gw pengen nonton. Karena apa? Karena settingnya keren. Meski gw gak segitu suka sama pilem setting western a.k.a koboi, tapi di sini Oom Brad ganteng *teuteup*. Dan lagi, artwork filmnya itu sendiri sangat-sangat vintage (warna-warnanya maksud gw).

Eh..kenapa gitu gw gak bisa bahas banyak? KARENA GW KETIDURAN DENGAN SUKSES dan cuma kebagian 10 menit pertama, pas si (Coward) Robert Ford masih menarasikan openingnya. Huhuhuh..nyesel bin sebel. Mana di pilem ini ada Jeremy Renner lagi. Yah…semoga dapet donlod-annya habis ini *sekali lagi yaah…*

****

Well, pokoknya, gw berniat begadang lagi Sabtu Malam minggu besok. Kalo jajaran filmnya seasyik ini, gw bela-belain deh gak bobok semaleman ah. Ada yang berminat gabung? *di rumah masing-masing tentunya*

Dilema(s) Diskon Buku

•Juni 20, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sebagai pecinta buku berkantong cekak, yang namanya event book fair, pesta buku hingga buku dengan diskon-diskon dengan banderol super miring adalah sebuah nirwana *nyenyong Paradise-nya Coldplay*. Habis gimana gak terbang ke awang-awang coba? Buku yang pas rilis dibanderol Rp 120rebu, pas book fair bisa aja gitu ngejogrok jadi harga Rp 20rebu doang *pengalaman pribadi*. Atau buku-buku bagus hanya dilabelin gocenk (lima rebu rupiah sadja) hingga paling mentok dua puluh lima rebu (enggak tau bahasa cina-nya ).


Cuma akhir-akhir ini, berhubung itu yang namanya event diskonan enggak kelar-kelar dan sepanjang tahun, gw agak-agak kehilangan gregetnya. Sekaligus menimbulkan sebuah dilema besar dalam diri gw *cangkem-mu!!* Apakah dilema tersebut?

1. Isi dompet gw bocor mulu.

Emang sih cuma 5 ribu sebiji. Tapi :

– buku A yang sampulnya keren: lima ribu
– buku B yang berlabel best seller :lima ribu
– buku C yang sinopsisnya uhuy : lima ribu
– buku D yang dari dulu ngincer dan akhirnya diobral : lima ribu
– buku E yang pengarangnya terkenal : lima ribu
– buku F yang genrenya gw bangetz : lima ribu

nah kan..itu udah berapa? Padahal duid segitu bisa buat ongkos kereta PP, plus makan nasi padang di bedeng deket parkiran.

2. Enggak ada lagi tempat nyimpen.

Habis, tiap event beli buku. Biasanya kalo pertama kali di-woro-woro itu event, belinya maruk. Kalo punya duid 100rebu, bukunya sebiji gocengan, ya abis aja gitu. Dari kunjungan pertama aja udah dapet 20 buku.

Belom lagi di kemudian hari ada event lagi dan buku yang diobral beda lagi. Mbelinya kalap, sampe rumah dikalapin orang rumah. In the end..it doesn’t event matter… *eh..malah nyenyong* Akhirnya, ya buku-bukunya keleleran di mana-mana, sampe di kolong tempat tidur, nitip di kamar adek, kakak, ibu-bapak, sodara, kamar tamu, bawah tipi, kamar mandi *eh, yang ini jangan*.

3. Kadang “Nemu” buku temen sendiri

Ini beberapa kali kejadian. Pas iseng nengok di tumpukan buku goceng, gw pernah liat buku orang yang gw kenal dilabelin sekitar 3000-5000. Paling mentok dulu nemu yang 10rebu. Sempat miris juga dan dilema, pengen beli apa enggak. Gw ngerti sih ribetnya nulis buku. Cuma gimanaaaa gitu. Pengen baca juga kadang-kadang.

Semoga temen-temen gw yang (enggak perlu disebut namanya dan kalo pada nanya gak gw jawab juga *ngekek) bukunya diobral itu, udah terima royalti FULL di depan sebelumnya. Minimal sedikit mengurangi guilty feeling gw

Kalo buku terjemahan mah, sebodo teuing. Makin murah, gw makin hepi — disantet —

4. Makin banyaknya Indie Publishers.

Sebenernya ini langkah apik dan keren. Cuma untuk mbikin indie publishers itu modalnya bukan cuma dengkul doang. Pernah liat itung-itungan punya salah satu MPer yang mbikin indie publisher, butuh modal gede. Makanya bukunya cenderung lebih mahal daripada buku yang dicetak major label *bosomuuuuu*

Gw yang termasuk jarang untuk mbeli buku dari indie publisher, bukan karena apa-apa. Soalnya harganya kadang nanggung. ATM gw bilangnya dia bisa transfer kalo minimal 50 rebu. Lha pake ongkir kadang masih kurang dari 50 rebu. Bukannya gak mau bantu-bantu temen, cuma gw keseringan kere akhir-akhir ini *mingsek-mingsek bin curcol* Makanya gw prefer mbelinya nunggu ada event tertentu pas si temen buka lapak di event *mohon dimaklumi*

Tapi, gw salut sesalut-salutnya kalo ada temen yang mbikin indie publisher. Itu sumpah, keren banget…

****

Nah, itulah beberapa dilema yang akhir- akhir ini mendera gw yang notabene pecinta genre obralan inih. Dulu pas awal-awal masih jarang ada diskon buku, gw enggak pernah melewatkan event-event diskon. Namun, berhubungan sekarang ada mulu sepanjang taun, jadinya mbeli ya pas ada duid deh